Dulunya aku sama sekali gak suka makan jenis makanan yang namanya ikan.
Tapi dalam beberapa tahun terakhir aku mulai mencoba untuk bisa menikmati rasanya ikan. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya bisa juga aku makan ikan, tapi dengan beberapa syarat dan ketentuan yang berlaku semisal :
- Hanya beberapa jenis ikan laut. Aku tidak suka ikan darat (ikanair tawar), kecuali gurame.
- Ikan harus dimasak dengan cara digoreng kering.
- Tidak ada bau amis ikan yang masih tercium.
Hal ini telah berlangsung sangat lama, bertahun-tahun.
Sop ikan? Mendengar namanya saja aku terbayang isinya ikan yang menurut definisiku sebagai sesuatu yang “mentah”, karena tidak digoreng kering (“mentah” dalam hal ini hanyalah istilah yang kubuat untuk makanan tertentu yang tidak digoreng kering semisal tempe mendoan yang karenanya aku tidak suka).


Dua dari tiga buah smartphone Android terbaru HTC yang memiliki nama dengan akhiran S telah resmi memasuki pasar Indonesia. Keduanya adalah HTC Desire S dan HTC Wildfire S yang masing-masing dibandrol dengan harga Rp 4.799.000 dan Rp 2.999.000. Belum ada kejelasan untuk HTC Incredible S, apakah akan dipasarkan di Indonesia atau tidak.
Secara garis besar, perangkat handphone dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan: smartphone dan non-smartphone. Smartphone adalah kelompok yang menggunakan sistem operasi semisal Windows Phone, Android, iOS, Blackberry, atau WebOS. Saya lebih suka menyebut kelompok non-smartphone sebagai feature-phone daripada istilah lain yang banyak digunakan orang Indonesia, yaitu non-OS, karena istilah terakhir itu saya rasa tidak tepat. Bagaimanapun juga, sebagaimana kita mengenal komputer, tidak akan mungkin sebuah handphone dapat beroperasi tanpa sistem operasi. Feature-phone pada kenyataannya juga menggunakan sistem operasi sehingga sangat tidak tepat jika disebut sebagai non-OS.
Handphone-handphone yang diproduksi oleh perusahaan Jepang dan hanya diedarkan di Jepang seringkali memiliki teknologi yang jauh lebih maju daripada handphone-handphone yang beredar di luar Jepang, bahkan bila dibandingkan dengan produk untuk Amerika atau Eropa sekalipun. Kondisi seperti ini kerap kali menimbulkan rasa “iri” pada beberapa pecinta gadget di luar Jepang. Beberapa orang bahkan rela merogoh kocek dalam jumlah yang tidak sedikit untuk mendatangkan handphone dari Jepang, namun apa daya handphone yang asalnya super canggih di Jepang menjadi handphone yang sangat basic ketika digunakan di luar Jepang.
Perang megapixel pada kamera handphone di antara vendor-vendor besar yang sempat terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini sepertinya telah berakhir di angka 12. Dimulai oleh Sony Ericsson dengan konsep Idou yang akhirnya secara resmi memiliki nama Satio (U1i), diikuti pula oleh Samsung dan LG, dan berakhir pada Nokia dengan seri N8. Nokia N8 − meskipun datang paling akhir − boleh dikatakan sebagai yang terbaik dari spesifikasi kamera dengan focal length yang paling besar di antara semua handphone berkamera 12 megapixel tersebut. Keunggulan spesifikasi inipun ternyata dibarengi dengan kualitas yang sangat bagus.
Produk terbaru
Pada tahun 2010 lalu,
Sony Ericsson