Recommended vs. Not Recommended: from Aneka Sop to Money Changer, etc.

Posted: 20 June 2009 in General
Tags: , , , , , , , , , ,

Tentang apa sih sebenarnya ini? Hanya cerita pengalaman pribadi saja. Tentang makanan yang enak dan yang gak enak, yang murah dan yang mahal, yang segar dan yang basi. Ada juga tentang hal-hal lain di luar makanan. Simak aja kalau berminat.

Terus terang, aku bukan seorang wisatawan kuliner yang berburu makanan sampai ke tempat yang jauh hanya untuk mencoba menikmati makanan tertentu. Tapi bukan berarti aku gak tahu mana makanan yang enak dan gak enak kan? Paling-paling aku hanya mencoba beberapa makanan di tempat makan yang ada di sekitarku, bisa di sekitar tempat kerja, atau di dekat rumah.

Makanan kegemaranku adalah aneka sop. Catat ya: SOP, bukan soto. Buatku definisi dari sop adalah makanan berkuah yang isinya daging plus sayuran, dan kuahnya harus bening. “Bening” di sini artinya bukan jernih yang seperti jernihnya air putih, tapi tidak diberi sesuatu yang membuat warna kuah menjadi “butek” atau “buram”, semisal santan, atau bahkan yang lebih aneh lagi: susu. Buatku, makanan berkuah yang kuahnya diberi santan atau susu itu bukan sop, melainkan soto. Entahlah benar atau tidaknya, ini hanya menurut persepsiku saja. Sorry ya buat pakar kuliner kalau aku bikin definisi sendiri.

Jadi, kalau merujuk pada “definisi” di atas, aku akan mengenyampingkan atau menyingkirkan jenis makanan berkuah berikut dari daftar favoritku, karena menurutku yang berikut ini adalah “bukan sop” (sekaligus berarti tidak aku sukai):

Jenis Sop yang Tidak Kusuka

Sop Konro
Tahu sop konro kan? Masakan khas Makasar, biasanya penjual sop konro juga menyediakan Coto Makasar (entah apa bedanya coto dengan soto, buatku sama aja). Ini kuahnya butek banget kan? Pake apa sih kok warnanya bisa sampe jadi butek/buram/item kaya gitu? Yang jelas bukan santan atau susu tapi kuahnya gak bening. Terus terang aja aku pernah beberapa kali makan sop konro (juga coto makasar), tapi sorry aja ya gak masuk selera. Rasanya menurutku aneh kalo gak boleh dibilang gak enak, hehehe…

Sop Kambing Madura
Yang dimaksud adalah sop kambing yang suka dijual bersamaan dengan sate kambing di pinggir-pinggir jalan dan seringkali ada tulisan Madura-nya. Entah yang jual beneran orang Madura atau bukan. Ini memang sering ada yang bening juga, tapi masalahnya kebanyakan isinya daging campur jeroan yang seringkali rasanya bikin mual. Kejam ya? Biarin, emang gak suka kok. Pernah nyoba minta dagingnya doang tanpa jeroan, tapi rasanya sama aja: bikin mual.

Sop Kambing Betawi
Itu lho… sop kambing pinggir jalan yang potongan dagingnya (dalam keadaan kering, belum dikasih kuah) disimpan di semacam baskom besar dan pembeli diminta memilih potongan kaki, lidah, mata, kuping, daging, susu, dan lain-lain. Kenapa gak suka? Kuahnya itu lho… kayanya bukan santan, tapi susu! Aneh bin gak jelas banget. Suka bikin mual juga karena baunya gak enak.

Selain “sop-yang-bukan-sop” di atas, ada juga beberapa jenis makanan yang gak aku sukai. Daftar hitamnya adalah:

Jenis Makanan Selain Sop Yang Tidak Kusuka

Gudeg
Ada apa dengan gudeg? Sesuai dengan prinsip dasar pertama(ku) tentang makanan: makanan yang dimakan dengan nasi itu rasanya tidak boleh manis, artinya tidak boleh diberi gula dalam bentuk apapun, baik gula putih maupun gula merah (sering juga disebut sebagai gula jawa, entah bagaimana sejarahnya). Dan gudeg adalah raja dari segala makanan yang manis. Bahkan, rasa manisnya bisa mengalahkan rasa manis kolak pisang yang biasanya populer di bulan Ramadhan. Kolak berasa manis sih oke-oke saja, ini kan bukan makanan yang dimakan dengan nasi. Tapi gudeg? Ya ampun… makanan untuk teman nasi kok manisnya gak kira-kira sih?

Rawon
Hmmm… sami mawon lah sama gudeg. Kuahnya berwarna hitam yang dicurigai dikasih gula, dan juga kecap. Kenapa gak suka rawon? Kali ini adalah karena rawon melanggar prinsip dasar kedua(ku) tentang makanan: makanan berkuah itu jangan dikasih kecap(!). Jadi kalau aku beli bakso atau sop, aku gak pernah ngasih kecap. Mungkin ada sedikit pengecualian pada soto (hanya sedikit jenis soto yang kusuka), memang gak apa-apa dikasih kecap tapi cukup apa yang sudah dikasih secara default oleh penjual, gak pernah mau nambah lagi. Sedangkan rawon, kuahnya kecap semua kan? Apalagi biasanya rawon disajikan dengan toge mentah yang kalau dimakan rasanya amit-amit banget deh, entah apa yang disukai orang-orang dengan toge mentah tersebut, buatku rasanya (lagi-lagi) bikin mual. Sorry nih dari tadi istilahnya mual melulu, abis bingung juga mendeskripsikannya.

Trus makanan seperti apa yang aku suka? Jelas: untuk jenis sop itu adalah Sop Iga atau Sop Buntut. Sop Kambing juga boleh asal yang bening dan isinya daging semua, gak pake jeroan.

Di mana menemukan aneka sop yang enak dan murah? Ini beberapa tempat yang aku suka:

Daftar Sop Yang Aku Suka

Warung Pemuda
Alamat: Jl. Pemuda, Cibubur (jalan di seberang Cibubur Junction atau sebelum pintu masuk Tol Cibubur arah TMII).
Warung ini kesannya sepi dan tempatnya biasa-biasa aja, cenderung jelek malahan. Tapi sopnya selalu segar dan nikmat. Harganya pun relatif murah, 1 porsi (plus nasi) hanya Rp 15.000)

Warung “Euceu”
Alamat: Gang Masjid (Jl. Kalibata Utara I), Kalibata.
Warung ini bentuknya mirip warteg tapi bukan warteg karena yang jualan adalah orang Sunda dan yang dijual juga masakan Sunda. Makanan lainnya memang gak ada yang istimewa tapi sopnya mantap nian… murah meriah pula. Jangan datang untuk beli sop si Euceu lewat jam 12 siang karena hampir dipastikan sudah habis. Yang unik dari warung ini adalah semua makanan dimasak menggunakan kayu bakar. Entah masih ada atau nggak sekarang, karena terakhir aku makan di sana adalah sekitar tahun 2002, pada saat aku masih kost di Kalibata Timur.

Dua di atas itu adalah contoh sop yang murah dan enak. Masih ada lagi beberapa penjual sop yang enak tapi gak bisa dibilang murah, misalnya di Ayam Goreng Fatmawati (beberapa outlet saja, lihat di bahasan tentang anomali di bawah), Secret Recipe, dan Daily Cafe.

Beberapa Keanehan, Kejanggalan, dan Anomali

Maksudnya apa nih? Aku cuma mau ngasih contoh beberapa hal, masih tentang makanan, yang menurutku gak wajar, atau aneh, atau janggal, atau mengandung sesuatu yang bisa dibilang anomali. Di sini juga akan ada bahasan tentang penjual makanan yang (lagi-lagi) gak enak. Simak aja ya.

Restoran MM Juice
Pada tahu kan Restoran MM Juice? Restoran yang namanya bisa membuat orang mengira dia hanya menjual minuman ini ternyata juga menjual berbagai jenis makanan. Harga minumannya lumayan mahal untuk ukuran restoran yang kebanyakan hanya berupa sebuah outlet kecil di foodcourt-foodcourt mall. Sedangkan harga makanannya bervariasi dari lumayan murah sampai mahal. Yang lebih gila adalah harga sop buntutnya: 1 porsi dijual seharga, kalau gak salah,  Rp 55.000(!). Sangat mahal mengingat di sekitar foodcourt yang sama biasanya ada outlet lain yang menjual sop buntut dengan harga 20-30 ribuan. Harga mahal mungkin tidak akan menjadi masalah asalkan rasanya enak. Masalahnya adalah: sop buntut MM Juice ini sangat sangat tidak enak(!) Sopnya itu mirip dengan sop konro: kuahnya gak bening, tapi butek, dagingnya alot, pokoknya… gak enak deh. Pernah dua kali makan sop buntutnya MM Juice di Cibubur Junction dan satu lagi lupa di mana, dua-duanya gak ada seperempat porsinya aku makan karena udah keburu dimuntahin sebagian… Mudah-mudahan aku gak kena UU ITE nih…

Sop Tulang 10.000 rp
Ada yang tahu restoran dengan nama Sop Tulang 10000 rp? Jangan terkecoh. Meskipun namanya 10000 rp (kalau dibaca menjadi sepuluh ribu rupiah), tapi jangan harap kalau sop yang dijual harganya Rp 10.000. Harga termurah yang dijual di sini adalah Rp 15.000 untuk sop iga yang mengandung tulang, kalau gak pake tulang Rp 20.000 dan seterusnya masih ada yang lebih mahal dari itu. Aku tulis di sini bukan tentang rasanya, tapi murni hanya masalah nama dengan harganya yang gak sinkron, bisa menipu orang. Soal rasa sopnya, menurutku standar aja, dibilang gak enak juga nggak, dibilang enak ya biasa-biasa saja sih. Tapi masih masuk ke dalam kategori yang agak aku suka lah.

Penjual Sop di komplek makanan di sebrang Kampung China, Kota Wisata
Tahu Kampung China Kota Wisata kan? Nah, di seberangnya kan ada beberapa penjual makanan tuh. Salah satunya yang persis banget di seberang pintu masuk adalah penjual sop iga dan sop buntut. Harganya lumayan mahal, di atas 20 ribuan atau lebih untuk sop buntut. Rasanya? Masih mending kalau gak enak. Ini lebih parah: yang dijual adalah makanan basi yang dari baunya saja bisa bikin orang hilang selera makan, bahkan muntah (lebih parah dari sekedar mual kan?). Beli sop buntut dan sop iga di sini hanya buang duit karena sejak pertama disajikan udah ketahuan kita gak akan bisa makan makanan tersebut(!).

Ayam Goreng Fatmawati
Ayam Goreng Fatmawati menurutku adalah sebuah waralaba yang aneh. Cabangnya banyak di mana-mana. Tapi tidak ada standarisasi baik dari cara penyajian maupun rasa masakannya. Dimulai dari bentuk piring/mangkok yang gak seragam, beda-beda antara 1 outlet dengan outlet yang lain, sampai pada rasa masakannya yang juga gak seragam, bahkan seringkali berubah-ubah meskipun di outlet yang sama. Misalkan hari kemarin aku mendapat sop iga yang rasanya enak di outlet ITC Depok, di tempat yang sama besok atau lusa belum tentu aku mendapatkan rasa yang sama: bisa jadi lebih enak atau malah jadi gak enak sama sekali. Rasa sop iga di ITC Depok bisa berbeda dengan outlet yang di Tamini Square. Di tempat terkahir ini rasanya gak pernah enak sama sekali. Demikian juga dengan masakan lainnya, beda outlet beda rasa.

Kentucky Fried Chicken
Aku sangat tahu kalau Kentucky Fried Chicken (KFC) itu adalah restoran ayam goreng paling populer di mana-mana, bahkan paling populer di antara semua restoran junk food jenis apapun. Banyak sekali orang yang suka dengan KFC, kasarnya bisa dibilang kalau pengen fried chicken kebanyakan orang akan terpikir dengan KFC. Memang sangat sesuai dengan tagline-nya: Jagonya Ayam. Tapi buatku, KFC adalah nomor satu di daftar hitam makanan selama lebih dari sepuluh tahun dan Insya Allah akan terus seperti itu. Alasan? Coba pikir, apa yang akan kamu lakukan jika kamu mendapatkan sepotong ayam goreng yang di dalam tepungnya terdapat ayam yang masih mentah penuh cairan kuning entah apa dan berwarna merah ditambah dengan cairan yang memang adalah darah yang masih sangat terlihat berwarna merah? Buatku, ayam itu adalah sampah yang harus segera dibuang dan jangan pernah lagi makan di tempat yang sama. Dan itu adalah yang diberikan oleh KFC di Atrium Senen pada sekitar tahun 1998. Sejak itu, aku gak pernah lagi mau makan di KFC manapun. Kalau memang aku pengen makan fried chicken, McDonald’s adalah pilihan utama.

Lain-lain (Money Changer)

Sudah dua kali aku pergi ke negara Singapura (Singapore). Yang pertama pada bulan April 2009. Hal pertama yang kulakukan setibanya di Bandara Changi adalah mencari money changer dan menukarkan uang dollar Amerika yang kubawa menjadi dollar Singapore. Waktu itu aku langsung menuju outlet American Express Bank (Amex) dan menukarkan pecahan USD 100 tanpa masalah. Uang langsung diterima dan ditukar. Pada kepergian yang kedua, money changer yang pertama kutemui adalah United Overseas Bank (UOB). Sebenarnya letaknya persis bersebelahan, tapi karena aku dari arah yang lebih dekat ke UOB (dan kebetulan sepi, berbeda dengan Amex yang ramai), juga karena kurs nya sama (display kedua bank tersebut terlihat dari depan UOB), maka aku tukar selembar USD 100 ke UOB. Apa yang terjadi? Teller-nya beberapa kali mengecek uangku pada alat sensornya, beberapa kali menerawang uang itu, beberapa kali meraba-rabanya, dan akhirnya bilang ke aku apakah ada pecahan lainnya? Ya ampun. Padahal uang itu cuma sedikit kotor aja. Meskipun sebenarnya aku masih punya pecahan dollar Amerika yang lain tapi karena kesal aku jawab gak ada, dan dia menolak untuk menukar uangku yang tadi. Dengan sangat mangkel aku ke sebelahnya, yaitu ke Amex, dan kuserahkan uang yang sama ke tellernya. Guess what? Teller Amex Bank tanpa memeriksa dan berbuat macam-macam langsung menukar uang itu dengan pecahan dollar Singapore. Beres. Beda banget ya pelayanannya? Jadi inget sama money changer di Indonesia yang suka membeda-bedakan tahun terbit dan kondisi uang dollar.

Oke, rasanya cukup sekian sharing pengalaman kali ini. Maaf kalau ada yang tersinggung, tapi ini murni pengalaman dan selera pribadi. Perlu ditekankan bahwa aku bukan pemilik atau ada hubungan apapun dengan pemilik restoran manapun. Ini hanya sekedar berbagi.

Comments
  1. Maqdisa says:

    KFC?..yup bner bgt tuh,,ane jg pnah nyoba..standarisasì makanany aja g jelas..ayamny msh belepotn darah,,udah gtu..produk pro israel sm ky MC D jg..

  2. Suprianto says:

    Kalo saya punya pendapat seperti ini. 1) kalo merasa ada yg gak beres sama makanan yg kita pesan, kenapa gak complain ke pengelolanya. Pasti akan ditanggapi dengan serius. 2) customer apabila merasa ditipu kenapa gak lapor ke lembaga konsumen indonesia saat itu juga. 3) di tempat saya ada sop yg enak dan murah, seporsi 13000. namanya sob baso tahu kuah. silakan dateng ke restoran mm juice cabang mitra 10 cibubur.

  3. jjlifeblog says:

    @Suprianto
    Terima kasih atas sarannya tentang komplain dan laporan ke YLKI.
    Tapi maaf Pak, kayanya saran bapak yang terakhir itu agak aneh deh. Baso tahu kuah sejak kapan bisa dikelompokkan ke dalam jenis masakan sop? Jangan2 nanti2 Bapak bilang kalau bakso atau mie bakso juga sejenis sop?
    Saya tahu dan pernah makan di beberapa restoran MM Juice, termasuk salah satunya di Mitra 10 Cibubur yang kebetulan dekat dengan tempat tinggal saya. Tapi maaf sekali Pak, menurut saya masakan MM Juice rasanya rata-rata standar dan tidak dapat dimasukkan ke dalam kelompok enak, terus terang menurut selera saya rasanya tidak enak. Untuk harga, masakan di MM Juice cukup masuk akal dan standar, kecuali Sop Buntutnya. Sop Buntut MM Juice harganya sangat keterlaluan: mahal gak kira-kira. Masih mending kalau mahalnya dibarengi dengan rasa yang enak. Saya pernah mencoba sop buntut MM Juice, dengan harga kalau gak salah Rp 55000 per porsi. Rasanya? Hampir sama dengan sop buntut di seberang Kampung China Kota Wisata yang saya ceritakan di atas. Sop buntut MM Juice kuahnya butek mirip dengan sop konro kan?
    Bapak jangan marah ya… saya kan komplain seperti saran Bapak di atas.

  4. JJ says:

    @Suprianto
    Saya bukan pemilik atau saudara dari pemilik restoran manapun kok Pak… dan pendapat saya tentang rasa sop buntut di MM Juice yang tidak enak itu murni pendapat saya pribadi. Kalau memang bapak mengganggap di antara 1 juta orang hanya 1 orang yang menganggap tidak enak ya wajar saja lah Pak… tak ada yang sempurna di dunia ini. Kalau Bapak baca tulisan saya di atas bahwa saya tidak menyukai jenis sop yang kuahnya TIDAK BENING, itulah alasan saya tidak menyukai sop buntut MM Juice, karena sop buntut MM Juice kuahnya berwarna hitam dan mirip sop konro yang tidak saya sukai. Saya pernah coba di MM Juice yang Cibubur Junction, dan hanya saya makan gak sampai 1/4 nya, sayang kan mahal-mahal tapi tidak termakan?

  5. alan wijaya says:

    menurut saya restaurant mm.juice sudah cukup memenuhhi standar dalam produknya,apa lagi yg pernah saya lihat mm.juice sudah mendapatkan berbagai sertifikat dari beberapa lembaga yg mengurusi kualitas dn kuantitas produk apa lagi sudah masuk lembaga iso.sai global jadi bisa terjamin mutunya,dan yg pernah saya rasa,makanan mm.juice enak enak..apalagi sop buntut itu kesukaan saya.,,dan juice juicenya yg beraneka ragam..yg paling saya sukai juicenya adalah durian kopyor,avocado,dan orange+carrot…..trimz

  6. JJ says:

    @alan wijaya
    Terima kasih atas masukannya.
    Tapi sekali lagi saya tekankan bahwa ini murni selera saya pribadi, bukan atas dorongan pihak lain.
    Lagipula yang saya bahas di sini adalah makanan kelas menengah ke bawah, soalnya kalau kelas atas kebanyakan enak. Ya sesuai lah antara harga dan rasa.
    Itu intinya: kalau harga mahal harus enak, kalau gak enak rugi.
    Dan enak atau nggaknya selera orang beda-beda.
    Terima kasih.

  7. eja says:

    koreksi aja mas, rawon tuh bukan pakai kecap. hitamnya rawon pakai kluwek.

  8. JJ says:

    @eja: makasih koreksinya ya…

  9. eno says:

    dari ulasan tentang makanan saya rasa anda orangnya picky banget ya ..hihii,,,,n 1 thing for sure=traumaan,,,,(trauma ama ayam kfc yg ada kuning2 gajih n merah2 darah)

    emang sop iga di kowis kampung cina separah itu ya? untung aku ga pernah makan
    salam

  10. JJ says:

    @eno: bukan trumaan sih, lebih tepatnya tidak mau mengulang kesalahan yang sama.
    Sop iga kowis kampung cina? parah… pernah nyoba juga makanan lainnya ga ada yang enak tuh

  11. Kamso says:

    Setuju.. Sop buntut MM Juice mahalnya keterlaluan tp rasanya biasa aja..

  12. anto says:

    Terimakasih atas kesedian para pencinta kuliner,berkat anda sekalian para pengusaha restouran tetep maju. semoga apa yang di komen anda sekalian apa adanya.ya begitulah hidup,setuju/tidak setuju,pro/kontra,enak/tidakenak.hal yang lumrah.sekedar informasi sob buntut mm juice naik menjadi 70 ribu rupiah,begitu juga dengan menu lainnya.dengan kenaikan tersebut mm juice memberikan pelayanan yang luar biasa.yang bertujuan agar tetep exis di indonesi dan mengembangkan sayap hinga menjadi restouran yang mendunia.

  13. dian says:

    rawon gak ada yang pakai kecap, rasanya bahkan juga gak manis. Kuah yang kehitaman itu krn penggunaan kluwak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s