To Be Or Not To Be: Early Adopter for Sony Ericsson Phones

Posted: 20 June 2009 in Sony Ericsson

Nama blog ini “Sony Ericsson Fan” tapi kok bikin post dengan judul seperti di atas? Gak usah heran. Kata “fan” atau kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia “penggemar” itu tidak berarti melulu harus menampilkan hal-hal baik dari apa yang digemarinya. Sebagai penggemar yang baik – duh istilahnya, sorry ya – aku juga gak mungkin kan berusaha untuk (terus-terusan) menutupi hal-hal kurang bagus (istilah halus untuk “jelek”) dari apa yang aku gemari? Buat apa? Gak ada untungnya juga. Aku kan hanya penggemar, bukan pemilik atau terkait langsung dengan Sony Ericsson.

Animated Emoticons

Akhir-akhir ini memang Sony Ericsson sudah merilis beberapa type ponsel yang aku sukai dan aku rencanakan untuk beli (kalau ada duit tentunya), beberapa masih dalam status coming soon. Contoh ponsel yang ingin aku beli dan sudah tersedia adalah C901 (alasan: Cyber-shot 5MP AF Camera dengan Xenon flash yang tipis, stylish, candybar) dan W995 (Alasan: Walkman dengan kamera 8MP Autofocus). Yang masih coming soon adalah Satio dan Aino. Alasan untuk dua yang terakhir sudah jelas: Entertainment Unlimited yang hampir mendekati all-in-one phone.

Di antara C901 dan W995, karena budget yang terbatas, aku harus menentukan pilihan. Dan pilihan jatuh pada C901 dengan alasan type Cyber-shot dan adanya Xenon flash. Juga karena C901 berbentuk candybar yang relatif lebih “aman” daripada slider. Aku lebih memilih untuk membeli ponsel seri Cyber-shot karena kamera adalah fitur yang paling sering aku gunakan setelah telpon dan SMS serta internet, jadi kualitas kamera harus baik atau terbaik. Dan C901 memiliki kriteria tersebut.

Kenapa gak langsung aja beli C901? Kenapa harus menunda sampai minimal 3 bulan ke depan baru direncanakan untuk beli C901? Ada ceritanya sendiri.

Animated Emoticons

Beberapa waktu yang lalu, setelah dikecewakan sebanyak 3 kali(!) oleh sebuah ponsel Sony Ericsson yang diberi index C905 (code name: Shiho), aku memutuskan dan berjanji pada diri sendiri untuk berhenti menjadi early adopter dari ponsel Sony Ericsson type apapun.

Animated Emoticons

Apa itu early adopter? Ini adalah istilah yang sering digunakan oleh para member forum diskusi yang berarti orang yang memiliki (baca: membeli) sebuah gadget sejak sangat awal gadget tersebut mulai tersedia atau dijual di  pasaran, pada saat harganya masih harga awal (yang  biasanya masih sangat mahal) atau bahkan di atas harga awal resmi )dari vendor atau distributor) karena ketersediaaan produk masih terbatas. Istilahnya bukan first adopter karena bisa saja karena keterbatasan dana, waktu dan kesempatan orang tersebut gak bisa menjadi yang sangat pertama. Jadi early adopter bisa berarti sekelompok orang yang memiliki gadget pada awal waktu peluncuran, katakanlah seminggu atau paling lama sebulan sejak diluncurkan atau sampai saat sebelum harganya mulai turun. Definisinya memang bisa beragam, tapi yang jelas seseorang bisa dikatakan sebagai early adopter dengan mengacu pada jumlah dan waktu kepemilikan di suatu forum diskusi di internet, karena kita tidak bisa mengukurnya kalau membandingkan juga dengan pembeli dari non-forum (informasinya dari mana?). Selain dikaitkan dengan harga, early adopter juga biasanya sering dihadapkan pada problem yang banyak dijumpai pada early stage product, semisal bugs atau error pada software atau built-quality yang masih kurang bagus.

Animated Emoticons

Dulu aku sering sekali menjadi early adopter, bahkan untuk beberapa type menjadi pemilik yang pertama, dengan acuan para member di Forum Ponsel. Bahkan jauh hari sebelum aku mengenal Forum Ponsel aku pernah menjadi early adopter (dengan beberapa asumsi tentu saja).

Animated Emoticons

Bermula dari sekitar pertengahan tahun 2005. Saat itu Sony Ericsson membuat gebrakan hebat dengan merilis K750 dan W800. Aku dengan setia menunggu tersedianya W800 dan menahan keinginan untuk membeli K750 karena ketertarikanku akan fitur Walkman (W800 adalah ponsel Walkman pertama dari Sony Ericsson). Sejak dirilisnya K750 (yang lebih dulu daripada W800) aku sudah memesan ke beberapa toko ponsel agar menghubungiku segera jika W800 sudah tersedia. Dan benar saja, salah satu toko itu meneleponku pada hari pertama W800 dirilis dan aku segera membelinya dengan harga (waktu itu) Rp 4.750.000 (harga ini sempat melonjak mencapai di atas 5 juta beberapa bulan kemudian). Apa yang terjadi? Di hari pertama memiliki W800, aku menemukan sebuah cacat “kecil” yang sangat mengganggu. Memang aku kurang teliti memeriksa sewaktu pembelian W800 tersebut (siang hari), tapi malamnya aku menemukan bahwa tulisan Walkman yang ada di sebelah kiri ponsel tidak sempurna, terlihat ada cat yang meluber keluar dari frame tulisan yang seharusnya. Memang hal ini tidak mengganggu fungsi ponsel tersebut tapi aku tidak suka memiliki barang yang “cacat”. Besoknya aku bermaksud untuk menukarkan ponsel tersebut ke toko tempat aku beli tetapi ditolak karena secara fungsi tidak bermasalah dan ponsel sudah dibawa ke luar toko sehingga cacat fisik tidak bisa ditanggung oleh toko. Apa daya, terpaksa aku jual kembali W800 tersebut dan merugi sebesar pas 1 juta rupiah. Mungkin aku adalah pembeli pertama W800 sekaligus penjual pertama W800 pada waktu itu. Dan aku membeli lagi W800 baru untuk kedua kalinya, kali ini bisa dikatakan “sempurna”. W800-ku yang kedua ini termasuk ponsel yang paling lama kumiliki, lebih dari setahun. Dijual karena tertarik dengan P900 waktu itu. Dan setelah beberapa tahun kemudian aku kembali membeli W800 dalam kondisi baru dan masih segel, sesuatu yang sukar ditemui pada tahun 2008(!). Sampai sekarang W800 yang ketiga ini masih kusimpan dan kupakai.

Beberapa tahun berlalu dengan beberapa kali pergantian type ponsel Sony Ericsson yang kubeli/kupakai dan kujual kembali. Aku kembali menjadi salah satu early adopter untuk P990. Beberapa tahun belakangan terjadi trend seperti ini: retail store resmi (SESC: Sony Ericsson Service Center) memasang harga resmi dari type ponsel baru tapi barangnya belum ada dijual di SESC tersebut atau SESC manapun. Anehnya, sebagian kecil toko ponsel biasa sudah memiliki produk tersebut. Tapi karena masih jarang, maka mereka berani mematok harga jauh di atas harga resmi. Ini yang terjadi dengan P990 yang aku beli. Waktu itu harga resmi adalah Rp 7.990.000. Setelah hunting di beberapa toko, aku dapat penawaran dengan harga bervarias antara Rp 8.200.000 – Rp 9.000.000. Akhirnya aku beli di suatu toko yang menjual dengan harga Rp 8.400.000 (waktu itu karena sudah malam gak mungkin balik lagi ke toko yang memasang harga Rp 8.200.000). Setelah pemakaian selama 1 hari penuh aku menemui masalah dengan fastport (jenis konektor di ponsel Sony Ericsson untuk menghubungkan ponsel dengan charger, kabel data dan handsfree). Fastport P990 yang kubeli tidak dapat membaca/mengenali baik charger, kabel data, maupun handsfree. Sehingga besoknya (hari ketiga) aku bawa kembali ke tokonya dan kali ini untungnya bisa ditukar dengan unit yang baru. Syukurlah.

Animated Emoticons

Aku pernah juga menjadi salah satu early adopter untuk Sony Ericsson K770. Pada waktu itu sebenarnya aku lebih tertarik dengan T650, tapi karena warna yang aku suka (Growing Green, hijau) belum tersedia juga, akhirnya aku memutuskan untuk membeli K770 dengan pertimbangan fitur yang hampir sama. Lagi-lagi masalah warna, dengan terpaksa aku beli warna Truffle Brown (coklat), satu-satunya warna yang tersedia saat itu. Pada saat warna Ultra Violet (purple/ungu) tersedia akhirnya aku jual yang warna coklat dan kutukar dengan warna ungu (beli baru). Rugi? Tentu saja, beberapa ratus ribu seingatku waktu itu, kurang dari satu juta rupiah. Untungnya lagi, dua buah K770 yang pernah kupunya gak pernah memberikan masalah berarti. Salah satu ponsel terbaik yang pernah dibuat oleh Sony Ericsson, menurutku.

Animated Emoticons

Seingatku, aku adalah orang pertama (di forum) yang membeli K850. Kalaupun bukan yang pertama, yang jelas aku masuk ke dalam kategori early adopter. Pada waktu itu, sangat banyak orang yang tertarik dengan K850 tapi mengurungkan atau menunda niatnya untuk membeli karena K850 dilaporkan memiliki kualias kamera yang kurang bagus dan banyak masalah pada software-nya. Memang, K850 adalah ponsel pertama dengan user interface baru (A200, bersamaan dengan W910) pada waktu itu, yang membawa sangat banyak bugs atau masalah dari softwarenya. Memang aku sangat nekad membeli K850 waktu itu, padahal warna yang aku inginkan (Luminous Green) pun belum ada, jadi terpaksa aku beli yang warna Velvet Blue. Memang, sangat banyak masalah yang kuhadapi mulai dari hasil photo kamera yang wash out (pudar) dan warna merah yang secara ajaib diubah menjadi warna pink(!), beberapa kali re-start dengan sendirinya, dan gangguan kecil lainnya. Beberapa bulan kemudian warna Luminous Green pun tersedia dan aku langsung menjual si Velvet Blue untuk ditukar dengan Luminous Green. Rugi juga kan? Tentu saja. Dan sialnya, ternyata si warna idaman bukannya memberikan sesuatu yang lebih baik tetapi malahan lebih parah: masalah pada keypad, d-pad dan touch sensitive keys-nya sehingga harus dirawat inap selama sebulan di SESC. Sewaktu pulang, si Luminous Green telah diberi sticker “Certified Service” di badannya dan kembali bermasalah dengan kameranya yang tidak pernah bisa focus lagi. Dijual dengan sangat merugi karena adanya “hiasan” sticker tadi. Aku sempat “nekad” beberapa bulan kemudian dengan kembali membeli K850 untuk ketiga kalinya. Kali ini menjadi sebuah “rekor” karena seluruh warna K850 aku miliki dengan QuickSilver Black menjadi K850 yang ketiga dan terakhir yang aku punya. K850 yang inipun aku jual beberapa bulan kemudian demi menebus sebuah C905 warna silver (yang akhirnya membawa “petaka”).

Animated Emoticons

Kasus dengan C902 lain lagi ceritanya. Sepertinya aku menjadi early adopter lagi untuk C902. Secara fungsi dan performa, C902 relatif aman dan tidak pernah memberikan masalah berarti kecuali sedikit bugs pada firmware awal.  Hasilnya kameranya pun secara umum lebih bagus daripada K850. Pembelian pertama, warna hitam, jatuh tanpa sengaja, menimpa lempengan besi tajam sehingga casing-nya baret-baret dan boncel. Dijual dengan sangat merugi karena cacat fisik. Saking sukanya dengan C902 – dan juga tidak ada pilihan lain waktu itu – aku beli lagi C902 untuk kedua kalinya, warna hitam (lagi). Entah kenapa dengan tanganku, C902 yang kedua inipun kembali jatuh ke jalanan berpasir dan menghasilkan cacat fisik yang bahkan jauh lebih parah dari yang pertama sehingga sewaktu dijual lagi kerugian yang aku derita sangatlah banyak. Masih gak kapok juga, aku beli lagi C902 untuk ketiga kalinya, kembali warna hitam (warna merahnya jelek menurutku). Kali ini tanpa masalah dan tanpa jatuh, tetapi dilepas demi sebuah Xperia X1 beberapa bulan kemudian. Lucunya, beberapa bulan kemudian setelah berpisah dengan X1 dan C905, aku membeli C902 lagi, tapi kali ini warna Titanium silver (edisi James Bond). Yang keempat ini praktis tanpa masalah kecuali: hilang(!).

Sebenarnya masih ada type ponsel Sony Ericsson lain yang kubeli lebih dari 1 kali, tetapi masalahnya tidak begitu berarti, kebanyakan masalah warna saja. Misalnya W880 dengan 2 kali warna Flame Black dan 1 kali warna Classic Gold. Kemudian T650 dengan warna Growing Green (akhirnya!) sebanyak dua kali karena yang pertama (beli dari luar negeri) hilang entah ke mana. T650 Growing Green yang kedua masih ada sampai sekarang.

Xperia X1 memang hanya sekali aku miliki, tapi aku termasuk early adopter karena membelinya di saat peluncuran perdana yang dilakukan oleh Sony Ericsson pada tanggal 12 November 2008 di Pacific Place, dengan harga resmi waktu itu Rp 8.999.000. Beberapa minggu setelahnya, harga X1 sempat melonjak ke angka 10 jutaan untuk kemudian kembali ke harga awal dan sekarang melorot ke angka 6 jutaan. Aku menjual X1 karena merasa kurang cocok dengan ponsel yang terlalu pintar sementara aku kurang memiliki waktu untuk meng-eksplor fitur-fitur yang dimilikinya, meskipun aku sangat suka dengan hasil photo dari kameranya yang sangat bagus. Alasan lain adalah karena sering mengalami crash. Kata para member di forum sih itu karena ROM-nya masih ROM lama. Karena sudah terlanjur terjual (laku seharga 6 jutaan pada saat harga baru masih di angka mendekati 9 juta), aku tidak sempat menikmati update ROM baru yang dilaporkan banyak kemajuan berarti dari yang sebelumnya.

Animated Emoticons

Dan sekarang tiba saatnya pada C905, sebuah ponsel flagship dari Sony Ericsson untuk type Cyber-shot yang dibekali dengan kamera beresolusi tertinggi saat itu (dan masih berlaku sampai saat ini) yaitu 8 megapixel. Tidak ada yang “salah” dengan fitur yang dimiliki C905, bahkan boleh dibilang hampir mendekati “sempurna”. Dia memiliki kamera 8 megapixel dengan autofocus, interface Cyber-shot versi terbaru, ada WiFi, ada GPS dengan aGPS, tampilan Music Player dengan PSP style yang keren, kualitas sound yang tidak kalah bagus dari seri Walkman, ada accelerometer, dan fitur-fitur lain yang menarik. Hanya saja bentuk fisik, desain dan bahan casing C905 membawa banyak masalah. Meskipun merupakan sebuah ponsel flagship dengan harga lumayan mahal (pertama kali aku beli harganya Rp 5.599.000), casing C905 hanya terbuat dari material plastik yang jauh dari kesan elegan, malahan terlihat biasa-biasa saja, tidak terlihat seperti ponsel berharga mahal (bandingkan dengan W705 atau C903 yang terbuat dari bahan metal yang memberi kesan mewah dan mahal). Selain itu desainnya yang berbentuk slider dibuat sangat ringkih, tidak kokoh sehingga ketika bagian layarnya digeser ke atas, bagian ini akan terasa bergoyang, tidak stabil. Goyangannya sangat mengkahawatirkan, dan membuat aku sangat tidak nyaman menggunakannnya. C905 ku yang pertama (warna silver) kujual kembali dengan alasan slider goyang tersebut. Saking sukanya dengan hasil photo dari kameranya yang bagus, aku membeli lagi C905 untuk kedua kalinya. Kali ini yang warna hitam. Material casingnya menurutku jauh lebih bagus daripada yang warna silver, terutama pada bagian tutup batere yang menjadi kesat sehingga enak digenggam karena tidak licin. Sayangnya, masalah slider goyang kembali datang, bahkan lebih parah dari yang pertama. Masalah diperparah dengan mengelupasnya strip di bagian samping kanan sehingga menempatkan sisinya yang setajam silet menganga dan mendekat ke bagian tombol shutter kamera sehingga sempat membuat jari tanganku terluka (!) Hanya seperti itu sajakah masalahnya? Belum… karena masih ada lagi, yaitu: keypad yang baret-baret, bukan karena jari-jariku tapi sepertinya karena mekanisme slidernya. Dijual lagi? Tentu saja. Cukup sampai di situ saja? Belum. Nekat sekali memang… aku membeli lagi C905 untuk yang ketiga kalinya(!), warna hitam lagi (karena menunggu warna gold/bronze belum juga tersedia) . Kali ini slider memang agak goyang tapi tidak terlalu parah. Keypad yang gores juga kembali muncul. Kali ini muncul sebuah masalah yang sangat parah, vital, dan memalukan(!). Earpiece atau earphone tiba-tiba mati total(!). Apa itu earpiece? Itu adalah bagian dari ponsel yang mengeluarkan suara dari lawan bicara sehingga bisa didengar oleh telinga kita pada saat melakukan percakapan telepon. Kalau earpiece ini mati, maka kita tidak bisa mendengar suara lawan bicara kecuali kita mendengarkannya melalui headset (handsfree). Tapi aku kan tidak bisa kalau harus selalu mencolokkan handsfree ke dalam ponsel. Kebanyakan percakapan aku lakukan dengan langsung pada earpiece tanpa bantuan handsfree. Maka, dengan matinya earpiece/earphone yang merupakan bagian paling mendasar dan vital dari sebuah benda yang namanya mengandung kata dasar phone, maka produk tersebut bisa dikatakan sebagai produk yang gagal total! Enough is enough.

Bagaimana kelanjutan C905 yang terakhir yang earpiece nya mati tersebut? Di-service? Ummm… nope! Masuk ke SESC akan makan waktu paling cepat satu bulan, dan hiasan sticker “Certified Service” akan merusak harga jualnya. Jadi aku segera menjualnya ke sebuah toko yang aku tahu pasti mereka tidak akan memeriksa sampai ke hal tersebut(!) dan memang ada, tapi resikonya akan dibeli dengan sangat murah. Tapi apa boleh buat daripada ketahuan bermasalah yang kemungkinan akan semakin menjatuhkan harganya.

Animated Emoticons Animated Emoticons Animated Emoticons

Jadi, aku memutuskan bahwa cukup sampai di sini aja aku menjadi seorang early adopter ponsel type apapun dari Sony Ericsson. Untuk ke depannya aku berjanji pada diri sendiri gak akan pernah lagi membeli ponsel Sony Ericsson pada awal peluncuran. Aku punya rencana akan membeli type ponsel yang aku inginkan paling cepat 3 bulan setelah peluncuran atau biasanya ditunjukkan dengan penurunan harga dari harga awal yang pertama kali. Asumsiku adalah bahwa dalam masa 3 bulan tersebut Sony Ericsson sudah memperbaiki segala kelemahan dari ponsel jika memang ada. Selain itu dalam masa 3 bulan aku bisa mengikuti berbagai review di internet untuk mengetahui apakah ponsel tersebut bermasalah atau tidak. Hal lain? Biasanya warna yang kuinginkan pun selalu datangnya belakangan. Dan memang benar, C901 yang warna Precious Peach belum tersedia, juga W995 yang warna Energetic Red.

Animated Emoticons

Semoga sharing pengalaman ini berguna bagi siapa saja yang membaca.

Animated Emoticons

Comments
  1. Odhie says:

    Slm kenal bro TRO…
    Aku ank br d FP(nick SSJ)

    Gila…gak nyangka ya..pengalaman bro tro gonta-ganti hp SE smp segitunya.
    Anda memang pantas dsbt SE sejati..hehe
    Btw ak jg pny pnglmn..
    Wkt ak bl W910..kira2 8 bulanan stlh launchng…beberapa hr pake..trnyata hp sering restart sndiri..parahnya itu terjadi smpai 5x sehari..dan sering lag untuk msk k bbrp menu.
    Ak pkr ini bs diakali dgn upgrade firmware..so bbrp minggu kemudian ak k SESC utk upgrade firmware dr r1fa030 mjd r1fa035====>guess what…awalnya sh ok..tp trnyt mslh restart msh tjd jg..wlpn ga tiap hr…dan utk mslh lag sdh lmyn brkurang..wlpn msh srg ”kambuh” sesekali..
    Memang bnr w910 dan k850 bnr2 ”kelinci percobaan” SE utk m’prknlkn platform a200..
    Tp ak cukup bangga..krn w910 m’menangkn global mobile award..haha
    Skrg pngn dijual aja ni hp…naksir hikaru soalnya..:D

  2. djoephans says:

    Waaw..!! daripada jadi ‘early adopter’, apa nggak mending jadi ‘beta tester’ aja? ^^

  3. jjlifeblog says:

    Kalau jadi beta tester mesti kerja di SE dulu sih…😀

  4. xyz says:

    gile kaya amet lw..

  5. HikaruKaze says:

    Waah… saya malah menjadi salah satu EA dari Yari… ^^
    tp selama ini nggak ada masalah sih..
    cuma sistem A200 yang lebih barunya agak berat.. mungkin karena masih firmware pertama..
    slider.. yah.. namanya non rel.. jadi goyang2.. cuma goyang 2 dikit pas didorong2 kekiri atau ke kanan.
    Saya juga sebenernya juga pengennya nahan2 beli handsetnya, tapi apa daya Cranberry White begitu menggoda, dan juga X1 harus masuk SESC karena keyboard retak (karena keyboard mudah kotor, dan saya nggak berani buka sendiri.. bawa ke SESC nggak sempet2…)

  6. martha says:

    wah… luar biasa pengalamannya! benar2 penggemar berat SE =D
    makasih bgt infonya…
    saya sangat minat sama satio, tolong klo ada review’nya ttg satio ya… =)

  7. jjlifeblog says:

    @martha
    Sayangnya saya gak berminat untuk membeli Satio jadi gak bisa review. Sis bisa baca di beberapa situs lain seperti gsmarena atau phonearena untuk review Satio

  8. jjlifeblog says:

    @HikaruKaze
    Selamat ya bro…. gimana Yarinya sekarang? Ditunggu review nya ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s