Kuliner: Yang Baru, Yang Enak, Yang Lama Yang Tetap Enak, dan Yang Lama Yang Berubah Jadi Makanan Basi

Posted: 17 October 2010 in General, Lifestyle
Tags: , , , , , , , ,

Saya ingin menulis tentang kuliner lagi. Tapi jangan harap ada tulisan tentang makanan mahal-mahal yang sering muncul di televisi atau yang direkomendasikan oleh Bondan Winarno, misalnya, ini hanya sekedar berbagi pengalaman tentang makanan yang ada di sekitar tempat tinggal saya saja.

Seperti pernah saya tulis beberapa tahun lalu di sini, jenis makanan kegemaran saya adalah berbagai macam sop, seperti sop daging, sop iga, atau sop buntut. Tapi terbatas hanya pada sop dengan kuah bening, karena itu sop konro atau sop buntut yang kuahnya berwarna hitam tidak masuk ke dalam selera saya.

Pada tulisan pertama saya tentang kuliner dulu pernah ada orang dari MM Juice yang “protes” karena saya pernah bilang bahwa sop buntutnya mahal dan tidak enak. Untuk orang tersebut, kembali saya tegaskan bahwa memang sop buntut MM Juice tidak saya sukai karena kuahnya “butek” alias berwarna hitam, dagingnya alot, dan harganya terlalu mahal untuk ukuran makanan seperti itu. Harga yang dipatok hampir setara dengan sop buntut di tempat lain yang lebih enak dan berkuah bening, tidak perlu saya sebut tempatnya, nanti saya dikira promosi lagi. Tapi tenang, bapak dari MM Juice, di tulisan ini saya juga akan menampilkan masakan MM Juice lain yang rasanya saya suka kok.

Garang Asem: Enak juga, tapi namanya aneh banget

Pertama kali lihat masakan jenis ini di MM Juice Giant Cimanggis. Ada fotonya. Agak bingung karena namanya aneh tapi fotonya mirip opor ayam. Karena harganya tergolong masuk akal, maka saya coba. Kebingungan bertambah setelah makanan dihidangkan dan saya cicipi sedikit. Namanya Garang Asem, tapi masakan ini sama sekali tidak mengandung bahan yang digarang ataupun ada asemnya barang sedikit. Isinya sekitar 3 potong daging ayam dengan kuah santan yang rasanya mirip opor ayam tapi agak encer kuahnya. Enak juga. Apalah artinya sebuah nama, yang penting rasanya enak. Dan tadi siang, saya coba lagi Garang Asem di MM Juice depan Giant Mitra 10 Cibubur, ternyata sama enaknya dengan yang di Giant Cimanggis.

Warung Pemuda: Berubah total dan selamat tinggal

Dulu saya sangat sering makan di Warung Pemuda yang terletak di Jl. Pemuda Cibubur. Jalan ini adanya persis di depan Cibubur Junction, di samping jalan menuju pintu tol Cibubur arah Jakarta. Yang sangat saya sukai di sini adalah sop iganya: murah meriah tapi nikmat luar biasa. Dalam beberapa kesempatan saya pernah meminta tambahan sopnya, bukan nasinya karena nasinya sudah sangat cukup buat saya. Dalam seminggu minimal satu kali, hari Sabtu atau hari Minggu, biasanya saya sempatkan untuk berkunjung ke sini menikmati sop iganya. Tapi sejak beberapa bulan terakhir, saya lupa tepatnya kapan – mungkin sekitar bulan Mei atau Juni tahun ini – saya tidak pernah lagi datang ke Warung Pemuda. Alasannya adalah karena pada saat terakhir saya makan di sana, saya disuguhi sop iga dengan daging yang sudah basi dan berbau tidak enak. Berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya yang selalu segar dan baru. Penyebabnya bisa saya perkirakan: karena yang mengelola sekarang bukan lagi ibu dan bapak tua pemilik awal, tapi dilanjutkan oleh entah siapanya – mungkin anaknya mungkin saudaranya – yang lebih muda. Yang saya dengar, ibu dan bapak tua itu sekarang sedang berkonsentrasi pada cabang terbarunya di jalan Sabang. Sangat disayangkan memang, warung yang dulunya menyediakan makanan yang sangat enak sekarang jadi warung dengan masakan basi dan bau.

Sate Kiloan SMS: Ada Rambutnya mbak…

Sate Kiloan SMS ini terletak di jalan Transyogi, persis setelah jembatan Sungai Cikeas, di sebelah kiri. Ini kayanya satu grup dengan Sate Kiloan PSK yang di seberangnya SPBU/McDonald Cibubur, karena di struk pembeliannya tercantum nama PSK juga. Jangan mikir yang aneh-aneh dulu ya. PSK ternyata singkatan dari Penggemar Sate Kiloan. Kalau SMS? Entahlah, yang pasti bukan Short Messaging Service. Sate yang dijual di sini minimal beratnya 1/4 kg, yang jadi 10 tusuk, terbuat dari daging kambing muda yang empuk dan sangat nikmat. Selain sate, ada juga sop kambing. Kuahnya memang tidak bening-bening amat, tapi gak butek banget kaya sop konro, jadi masih masuk kriteria. Kalau makan di sini, saya selalu memesan sate dan sop kambingnya. Kira-kira dua minggu lalu, berdua dengan seorang teman saya makan di sini. Seperti biasa kami sangat menikmati makanan yang disajikan. Tiba-tiba bencana datang. Saya melihat ada sehelai rambut panjang yang masuk ke mulut teman saya. Saya mencoba untuk memperingatkan dia tapi terlambat karena rambutnya sudah masuk ke dalam mulut dan tertelan. Teman saya langsung berlari menuju toilet dan di sana dia muntah-muntah dengan suara keras dan sangat lama, berusaha untuk mengeluarkan rambut yang pasti berasal dari seorang wanita karena ukurannya panjang. Teman saya keluar dari toilet dengan muka merah dan lemas, dan seketika itu juga kami langsung pergi tanpa berniat untuk menghabiskan makanan yang masih bersisa lebih dari setengahnya. Siapa yang mau meneruskan makan jika ada barang seperti rambut di dalam makanannya?

Depot Soto Gebraak: Sejauh ini masih oke, semoga tetap bertahan.

Kira-kira 200 meter dari Sate Kiloan SMS, di seberangnya ada Depot Soto Gebraak Cak Anton. Oke, ini bukan sop, tapi soto, jadi kuahnya memang tidak bening karena mengandung santan. Sesuai dengan namanya, ada sebuah ritual khas yang selalu dilakukan oleh para pelayan di rumah makan ini, yaitu menggebrak meja dengan sebuah botol khusus segera setelah menuangkan kecap ke dalam kuah sotonya. Bunyinya sangat nyaring dan cukup membuat kaget, bahkan meskipun kita sudah beberapa kali berkunjung ke sana. Karena itulah di rumah makan ini ada tulisan yang berbunyi: “Senyum Boleh, Marah Jangan”. Menurut saya ada yang kurang, seharusnya ada juga tulisan: Yang Memiliki Penyakit Jantung Dilarang Masuk, hehehe… Favorit saya di sini adalah soto daging, tanpa dicampur dengan jeroan dan lain-lain. Rasanya lumayan enak, dan dari awal sampai akhir rasanya tidak berubah, tetap enak. Semoga Cak Anton bisa menjaga kualitas masakannya.

Ayam Bakar Mas Mono: Enak Dimakan Dan Perlu

Beberapa bulan lalu, Ayam Bakar Mas Mono membuka cabangnya di Cibubur, tepatnya di jalan Transyogi di sebelah Gerbang Nusantara. Awalnya saya tidak mengenal apa atau siapa itu Ayam Bakar Mas Mono, tapi setelah saya coba, wah mantap sekali, dengan harga yang murah kita mendapatkan makanan yang sangat nikmat luar biasa. Kalau makan di sini sudah dipastikan apa yang disajikan di piring akan ludes. Ayam bakarnya memang empuk dan enak, nasinya juga putih dan pulen. Luar biasa. Dalam kunjungan kesekian kalinya, sudah tak terhitung lagi sekarang jumlahnya karena saking seringnya, saya iseng memandangi foto-foto sejarah perjalanan rumah makan ini dari awal hingga sekarang. Tiba-tiba saya terpaku pada suatu foto karena sepertinya saya mengenal foto itu. Setelah saya ingat-ingat, foto itu adalah sebuah gerobak kaki lima di jalan MT Haryono, Jakarta Selatan, tepat di seberang Universitas Sahid. Saya jadi ingat dulu ketika saya masih berkantor di jalan MT Haryono, saya pernah beberapa kali makan di tempat itu, ayam bakar juga, tanpa tahu nama tempatnya. Ternyata, gerobak kaki lima pinggir jalan itu adalah cikal bakal Ayam Bakar Mas Mono yang sekarang namanya semakin berkibar. Menurut informasi yang ada di rumah makan tersebut, Ayam Bakar Mas Mono sudah beberapa kali tampil di televisi dan mendapat rekomendasi dari Pemburu Kuliner, entah siapa si pemburu ini saya benar-benar tidak tahu. Yang jelas, Ayam Bakar Mas Mono memang enak. Selain enak, tempatnya nyaman dan banyak kalimat-kalimat lucu yang terpajang di sini untuk menghibur pengunjungnya. Tapi kenapa orang galak dilarang masuk ya?

Foodholic: Modern Foodcourt pertama di Cibubur

Bulan Juni 2010 telah dibuka sebuah tempat makan baru di Cibubur: Foodholic. Foodcourt yang memiliki tagline Modern Foodcourt pertama di Cibubur ini berlokasi di lantai 3 gedung Mitra 10 Cibubur. Tempatnya memang enak dan nyaman, ada ruang khusus untuk merokok. Banyak makanan dan minuman yang ditawarkan di tempat ini, mulai dari pempek sampai soto, es teler sampai cappucino. Sayangnya setelah beberapa kali mencoba makanan dan minuman di sini, sejauh ini belum ada satupun yang rasanya enak dan berkesan.

 

Sop Iga Arundina: Enak Juga kok…

Di Arundina, tepatnya persis di pintu keluar dari komplek ruko Cibubur Indah di bagian samping kiri, terdapat beberapa penjual makanan pinggir jalan. Salah satunya adalah penjual sop iga dan sop buntut yang saya lupa namanya, tapi fotonya ada di samping ini. Awalnya coba-coba saja karena bingung mau makan apa, saya pesan sop iga di sini. Ternyata rasanya enak juga. Warungnya cukup ramai. Lumayan untuk alternatif kalau makanan lain tidak ada yang berkenan di hati jika kebetulan mampir ke daerah Arundina, Cibubur lama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s