Festival Film Indonesia: (Maunya) Banyak Aturan Tapi Malah Jadi Tak Karuan

Posted: 18 November 2010 in Entertainment, General, Lifestyle, Movies
Tags: , , , ,

Enam kali sudah Festival Film Indonesia (FFI) yang bangkit dari kubur kembali diselenggarakan, tepatnya dimulai sejak tahun 2004 dan terakhir tahun 2009 yang lalu. Jangan tanya saya apakah sewaktu dalam “kubur” itu FFI sempat “Beranak Dalam Kubur” atau tidak ya… Tulisan ini bukan tentang kebangkitan kembali film Indonesia atau FFI, tapi hanya sekedar pemikiran dan pertanyaan seputar penyelenggaraan FFI.

Tahun 2010 ini, bulan depan tepatnya, bulan Desember 2010 tapi saya tidak terlalu ingat tanggalnya kapan, FFI akan kembali diselenggarakan untuk ke-7 kalinya (dihitung sejak 2004). Semula direncanakan Batam akan menjadi lokasi perhelatan akbar acara penyerahan Piala Citra, tapi karena ada masalah dengan keuangan – artinya dananya kurang, begitu mungkin maksudnya – acara akhirnya dipindahkan ke Jakarta.

Berikut pernyataan dari Niniek L. Karim, sang ketua Komite Festival Film Indonesia (KFFI) mengenai alasan pemindahan lokasi acara tersebut:

“Karena memang lebih murah di Jakarta. Kalau di Batam pasti biayanya jauh lebih mahal, karena kita harus bawa orang dan undangan begitu banyak. Terus juga waktunya sangat mepet,” begitu kata Niniek L. Karim.

Di manapun tempat acara puncak FFI 2010 nantinya diselenggarakan, seharusnya tidak menjadi masalah pada isi acaranya itu sendiri. Tapi, yang ramai diberitakan sekarang adalah tidak lolosnya 2 buah film yang menurut banyak kalangan mempunyai kualitas yang bagus, yaitu film Sang Pencerah dan Garuda Di Dadaku.

Masih ada masalah lain sebenarnya, yaitu bahwa beberapa waktu yang lalu panitia FFI 2010 mengumumkan bahwa hanya ada 8 film yang lolos seleksi awal, jumlah yang tidak sesuai dengan pedoman atau peraturan FFI yang mempersyaratkan jumlah minimal antara 10-15 film yang lolos seleksi. Untuk menyikapi berbagai pertanyaan (dan kecaman), panitian FFI kemudian mengumumkan tambahan 2 buah film yang lolos seleksi untuk menggenapkan jumlahnya menjadi 10 agar sesuai aturan tersebut, tentunya disertai “pengakuan dosa” bahwa mereka sudah melakukan kesalahan.

Lalu apa tanggapan panitia FFI 2010 mengenai tidak lolosnya film Sang Pencerah dan Garuda Di Dadaku? Untuk film yang pertama, jawabannya agak aneh dan kurang mendasar serta terkesan terlalu diada-adakan, atau dengan kata lain dibuat-buat. Menurut keterangan panitia, tidak lolosnya film Sang Pencerah adalah karena film tersebut tidak akurat dan banyak fakta sejarah yang terlewati. Berikut pernyataan Ketua Komite Seleksi FFI 2010, Viva Westi:

“Upaya untuk mengangkat biografi orang besar patut dihargai karena banyak memberi inspirasi. Tetapi patut disayangkan, biografi yang dimaksud baru sampai pada penggambaran peristiwa-peristiwa penting yang dialami sang tokoh,” kata Viva Westi.

Tidak akurat? Okelah, mungkin saja, tapi siapa yang tahu persis akurat atau tidaknya? Tapi alasan ini: “baru sampai pada penggambaran peristiwa-peristiwa penting yang dialami sang tokoh” dengan kata lain adalah “tidak lengkap”. Bayangkan saja, hanya dengan durasi film yang rata-rata 2 jam, seberapa banyak kisah hidup seorang tokoh dapat digambarkan secara utuh? Justru “peristiwa-peristiwa penting yang dialami sang tokoh” itulah mungkin yang ingin (dan sudah) diangkat oleh pembuat film ke dalam karyanya yang memiliki batasan waktu tersebut. Dan itu adalah tema dari film tersebut.

Sebelum menulis lebih lanjut, saya ingin jujur berkata bahwa saya bukan penggemar film Indonesia. Saya hanya sedikit sekali menonton film Indonesia. Sejak era kebangkitannya kembali di tahun 2004, film yang saya tonton mungkin bisa dihitung dengan jari. Bahkan jujur saja saya tidak suka dengan film yang mendapat predikat Film Terbaik FFI 2004, yaitu “Ada Apa Dengan Cinta?” karena pada beberapa scene saya melihat ada penggalan cerita yang klise dan sering muncul di film-film lain, juga keseluruhan cerita biasa-biasa saja menurut saya. Tapi, saya sering mengikuti berita tentang film Indonesia dan juga FFI dari sejak dulu.

Ada satu pertanyaan yang sering menggelitik pemikiran saya tentang FFI. Kenapa panitia seleksi harus menyaring sebanyak 10-15 film terlebih dahulu baru kemudian mengumumkan nominasi untuk semua kategori yang berasal dari 10-15 film tersebut? Bagaimana jika film lainnya yang tidak lolos seleksi memiliki minimal satu saja karya yang bagus di suatu kategori?

Lihat contoh Piala Oscar (Academy Award) atau Golden Globe. Sering sekali terjadi, ada nominasi (bahkan pemenang) suatu kategori dari sebuah film yang tidak masuk ke dalam nominasi Film Terbaik. Bahkan pernah juga terjadi film tersebut hanya memiliki 1 nominasi tapi bis membawa karya sebuah kategori yang dinominasikan menjadi pemenang. Sebagai gambaran, contoh seperti di atas yang saya ingat adalah Denzel Washington dan Halle Berry. Keduanya mendapat Oscar untuk Aktor dan Aktris Terbaik dari film yang tidak masuk nominasi film terbaik. Bahkan kalau tidak salah kedua film tersebut (atau minimal salah satunya) mendapat nominasi hanya untuk satu kategori yang akhirnya dimenangkan tersebut. Sistem penilaian FFI dengan Oscar atau Golden Globe memang berbeda.

Jika Oscar dan Golden Globe menilai seluruh film yang masuk dan menghasilkan nominasi dan pemenang tanpa harus memperkecil jumlah filmnya terlebih dahulu, lain halnya dengan FFI. Panitia sepertinya tidak mau repot untuk menilai sekitar 50-an lebih film secara seksama sehingga memperkecil jumlahnya terlebih dahulu menjadi hanya 10-15. Hal ini mungkin karena kemampuan orang Indonesia dalam melakukan penilaian terhadap karya film memang belum sebanyak dan sebagus orang-orang luar negeri (Amerika atau Eropa).

Lalu, bagaimana dengan Garuda Di Dadaku yang juga tidak lolos seleksi? Alasan panitia FFI adalah karena film ini disutradarai oleh bukan orang Indonesia alias orang asing. Tapi bagaimana dengan insan perfilman lain yang terlibat di film ini yang justru sebagian besar orang Indonesia? Apakah hanya karena 1 orang asing sehingga hasil karya mereka menjadi tidak layak dinilai? Begitukah? Kasihan sekali anak-anak bangsa Indonesia yang sudah berkarya di film ini.

Kenapa tidak bias fleksibel dengan mengubah aturan menjadi seperti ini misalnya: film sejenis Garuda Di Dadaku bias lolos seleksi dengan catatan bahwa sang Sutradara tidak berhak diikutsertakan dalam penilaian. Ini artinya unsur-unsur lainnya bisa diiikutsertakan dalam penilaian.

Sekarang, coba kita perhatikan 10 film yang lolos seleksi awal FFI 2010 berikut ini:

  1. 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (sutradara: Benni Setiawan; produser: Putut Widjanarko – Mizan Production)
  2. Alangkah Lucunya Negeri Ini (sutradara: Deddy Mizwar; produser: Zairin Zain – PT Demi Gisela Citra Cinema)
  3. I Know What You Did On Facebook (sutradara: Awi Suryadi; produser: Shankar – Digital Film Maker & Sisterbros Nationtainment)
  4. 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (sutradara: Robby E. Soediskam; produser: PT Anak Negeri Film)
  5. Minggu Pagi Di Victoria Park (sutradara: Lola Amaria; produser: Sabrang Mowo Damar Panuluh, Dewi Umaya Rachman – Pic[k]lock Production)
  6. Hari Untuk Amanda (sutradara: Angga Dwimas Sasongko; produser: Dedy Abdurachman – MNC Pictures)
  7. Cinta 2 Hati – Dilema (sutradara: Benni Setiawan; produser: Wanna Be Pictures)
  8. Heart-Break.com (sutradara: Affandi Abdul Rachman; produser: Affandi Abdul Rachman – One Star Productions)
  9. Red Cobex (sutradara: Upi; produser: Chand Parwez – Starvision Plus)
  10. Sehidup (Tak) Semati (sutradara: Iqbal Rais; produser: Hasrat Djoeir dan Gita Jiwatram – Millenium Visitama)

Saya tidak tahu persis kualitas kesepuluh film di atas, tapi melihat dari judul dan deretan nama sutradara, pemain, maupun produsernya, dan juga tulisan di internet tentang film-film tersebut, rasanya film seperti “I Know What You Did On Facebook” agak aneh bisa masuk ke dalam 10 besar menyingkirkan film seperti Sang Pencerah dan Garuda Di Dadaku. Judulnya saja merupakan “contekan” dari salah satu judul film horor terkenal di Amerikan. Isinya? Well, kelihatannya hanya sekedar film Kelas B biasa saja.

Mungkin lebih baik FFI tahun depan meloloskan film-film yang memiliki judul-judul seperti Pocong (jilid kesekian), Kuntilanak (edisi kesekian), atau pertarungan antar hantu dari berbagai jenis, dan film-film yang berbau seks yang dibintangi oleh porn-star dari luar negeri. Biar seru…

Bagaimana menurut Anda?

Comments
  1. […] Permasalahan bermula dari kurangnya jumlah film yang lolos seleksi. Menurut ketentuan, seharusnya komite seleksi memilih 10-15 judul film panjang yang lolos seleksi dan berhak untuk masuk ke babak penilaian berikutnya. Pada awalnya, komite seleksi hanya meloloskan 8 judul film panjang. Di sini terjadi kontroversi karena film Sang Pencerah dinyatakan tidak lolos seleksi dengan alasan yang terlalu dibuat-buat. Demikian pula dengan film Garuda Di Dadaku dengan alasan sutradaranya bukan orang Indonesia, padahal para pemain dan juga kru film lainnya hampir semua orang Indonesia. Komite Seleksi kemudian meralatnya dengan memasukkan 2 judul film panjang tambahan untuk melengkapinya menjadi 10 judul. (Baca: Festival Film Indonesia: (Maunya) Banyak Aturan Tapi Malah Jadi Tak Karuan). […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s