Alangkah Lucunya Festival Film Indonesia (FFI) 2010 Ini: Saking Lucunya Yang Terjadi Malah Semakin Ricuh Dan Kisruh!!!

Posted: 5 December 2010 in General, Lifestyle
Tags: , , ,

Festival Film Indonesia (FFI) 2010 kembali bermasalah. Setelah permasalahan mengenai jumlah film yang lolos seleksi awal − hanya ada 8 dari ketentuan minimal 10 film − meskipun kemudian dikoreksi dengan ditambahkannya 2 film ke dalam daftar, batalnya pengumuman daftar nominasi di Batam pada tanggal 1 Desember 2010 − yang juga dinodai dengan insiden pelecehan seksual oleh salah satu artis terhadap anak gadis di bawah umur − sampai pada pemecatan dan penggantian dewan juri (lama), pembentukan dewan juri baru, hingga adanya dewan juri “tandingan” yang mengumumkan para “pemenang” festival lebih awal dari jadwal.

Ada yang salah dan tidak beres tentu saja. Apakah itu? Kesalahan bisa saja berasal dari tingkah dan ulah orang-orang yang duduk di kepengurusan atau panitia, tapi bisa juga karena aturannya yang sudah harus ditinjau ulang dan direvisi untuk disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan serta perkembangan jaman.

Permasalahan bermula dari kurangnya jumlah film yang lolos seleksi. Menurut ketentuan, seharusnya komite seleksi memilih 10-15 judul film panjang yang lolos seleksi dan berhak untuk masuk ke babak penilaian berikutnya. Pada awalnya, komite seleksi hanya meloloskan 8 judul film panjang. Di sini terjadi kontroversi karena film Sang Pencerah dinyatakan tidak lolos seleksi dengan alasan yang terlalu dibuat-buat. Demikian pula dengan film Garuda Di Dadaku dengan alasan sutradaranya bukan orang Indonesia, padahal para pemain dan juga kru film lainnya hampir semua orang Indonesia. Komite Seleksi kemudian meralatnya dengan memasukkan 2 judul film panjang tambahan untuk melengkapinya menjadi 10 judul. (Baca: Festival Film Indonesia: (Maunya) Banyak Aturan Tapi Malah Jadi Tak Karuan).

Saya akan coba memberikan saran agar ketentuan penilaian FFI untuk ke depannya diubah. Misalnya adalah dengan tidak perlunya ada pendaftaran film yang akan menjadi peserta festival dan juga pembatasan jumlah film yang akan dinilai menjadi 2 tahap seperti sekarang. Ketentuan yang saya usulkan misalkan seperti ini:

  1. Film yang menjadi peserta festival adalah seluruh film berbahasa Indonesia yang diputar di bioskop Indonesia pada periode waktu tertentu dalam tahun penilaian (misal dari tanggal 1 November 2009 sampai 31 Oktober 2010 jika penilaian akan dimulai 1 November 2010 dengan pengumuman nominasi akhir bulan November 2010 dan pengumuman pemenang pada bulan Desember 2010).
  2. Tidak ada pembatasan jumlah film yang akan dinilai. Seluruh film akan dinilai untuk kategori penilaian yang telah ditentukan (peran utama pria/wanita, peran pendukung pria/wanita, penyutradaraan, dan lain-lain).
  3. Penilaian hanya akan dilakukan pada hasil karya pekerja film yang berkewarganegaraan Indonesia. Jika dalam suatu film terdapat salah satu atau lebih unsur yang bukan tercatat sebagai warga negara Indonesia, maka unsur tersebut akan diabaikan.

Dengan demikian, seluruh unsur dalam perfilman mendapatkan kesempatan yang sama untuk dinilai hasil karyanya oleh dewan juri. Dengan ketentuan baru ini tidak menutup kemungkinan bahwa sebuah film hanya menghasilkan 1 buah nominasi saja. Lihatlah perhelatan akbar seperti Piala Oscar atau Golden Globe misalnya, beberapa kali terjadi seorang aktor atau aktris mendapat nominasi bahkan menjadi pemenang dari sebuah film yang bahkan tidak masuk ke dalam nominator film terbaik.

Kekisruhan lain yang terjadi pada FFI 2010 kali ini adalah adanya pemecatan dewan juri. Sebelum pemecatan ini terjadi, acara pengumuman daftar nominasi di Batam yang sedianya digelar tanggal 1 Desemeber 2010 dibatalkan. Padahal waktu itu dewan juri lama telah menyiapkan daftar tersebut. Belakangan diketahui bahwa dalam daftar tersebut film Sang Pencerah mendapat nominasi paling banyak (9 buah nominasi termasuk untuk Film Terbaik), sedangkan film Alangkah Lucunya Negeri Ini − garapan Deddy Mizwar yang juga duduk di kepanitiaan sebagai Koordinator Pengarah KFFI − hanya mendapatkan 2 nominasi saja, itupun tidak termasuk untuk kategori film terbaik.

Apakah karena hal tersebut makanya pengumuman nominasi kemudian dibatalkan? Bahkan lebih parah lagi KFFI kemudian memecat dewan juri lama? Karena film garapan salah satu panitianya tidak mendapat nominasi terbanyak dan tidak masuk nominasi untuk film terbaik? Kenapa panitia FFI bisa menilai film garapannya sendiri? Aneh sekali.

Seperti kita ketahui sekarang, setelah dibentuk dewan juri baru dan nominasi akhirnya diumumkan juga pada tanggal 3 Desember 2010, film garapan Deddy Mizwar yang berjudul Alangkah Lucunya Negeri Ini mendominasi daftar nominasi dengan 12 buah nominasi dari 13 kategori film panjang yang ada. Wow! Panitia FFI menilai “hasil karya sendiri” dengan hebatnya.

Alangkah Lucunya FFI 2010 Ini, karena dewan juri yang lama kemudian seakan menjadi partai oposisi dengan merilis daftar nominasi yang dibatalkan, di mana film Sang Pencerah yang notabene tidak lolos seleksi awal meraih nominasi terbanyak. Bahkan lebih “lucu”-nya lagi, gebrakan mantan dewan juri ini tidak sampai di situ. Mereka mengumumkan daftar pemenang jauh lebih awal dari jadwal FFI yang sebenarnya. Dan sekali lagi, Sang Pencerah “memenangkan” 9 buah penghargaan dari 13 kategori, termasuk menjadi Film Terbaik.

Masih ada yang lebih “lucu” lagi. Menurut versi dewan juri “tandingan”, film Alangkah Lucunya Negeri Ini hanya memperoleh 2 nominasi, tidak termasuk sebagi nominator Film Terbaik, dan pada akhirnya tidak memperoleh satupun penghargaan.

Alangkah Lucunya FFI 2010 Ini…

Apapun hasil penilaian pemenang Piala Citra yang akan diumumkan oleh FFI pada tanggal 6 Desember 2010 buat saya sudah tidak penting karena kredibilitas FFI semakin diragukan.

Post Note.

Selain hal di atas, ada lagi berita yang sangat ironis. Film garapan Riri Riza dan Mira Lesmana, Laskar Pelangi, yang di dalam negeri tidak dilirik sama sekali oleh FFI beberapa tahun lalu, malah berjaya di luar negeri dengan seringnya memperoleh penghargaan dari berbagai festival film bergengsi. Bahkan tidak berhenti sampai di situ saja: buku seri Laskar Pelangi karya Andrea Hirata akan diterbitkan secara internasional oleh penerbit di Amerika. Rumor terakhir juga menyebutkan bahwa film Laskar Pelangi diminati oleh produser film Amerika untuk dibuat ulang dalam versi Hollywood, dengan salah satu kandidat sutradaranya adalah Danny Boyle yang pernah berjaya dengan Slumdog Millionaire. Well, Laskar Pelangi, teruslah berjaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s