Film Hollywood (Dan Film Asing Lainnya) Tidak Akan Ada Lagi Di Bioskop Indonesia. Siapa Yang Untung? Siapa Yang Rugi? Apa Dampaknya Pada Perfilman Nasional?

Posted: 20 February 2011 in Entertainment, General, Lifestyle, Movies
Tags: , , , ,

Berita yang sangat  mengejutkan datang dari dunia perfilman di Indonesia. Motion Picture Association of America (MPAA) menghentikan distribusi film-film produksi Hollywood ke Indonesia. Penyebabnya adalah karena pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai memberlakukan peraturan baru dengan melakukan pembebanan pada bea masuk atas hak distribusi film impor. Kenapa bisa begitu? Karena MPAA berpendapat bahwa kebijakan baru tersebut adalah suatu hal yang tidak lazim dan tidak pernah ada di industri film manapun di dunia, kecuali di Indonesia (baca: Hollywood Stop Edarkan Produksi Filmnya ke Indonesia).

Apakah sebelumnya MPAA (dan juga importir film asing lainnya) tidak dikenakan pajak atau bea masuk? Tentu saja pajak atau bea masuk bagi film asing sebelumnya sudah ada. Hanya saja ada ketentuan baru yang dianggap tidak lazim oleh mereka. Bagaimana sebenarnya mekanisme perpajakan yang berlaku atas film impor tersebut?

Menurut Noorca Masardi, juru bicara 21 Cineplex, sebelumnya ada 3 ketentuan produsen film asing yang ingin menayangkan filmnya di bioskop Indonesia, yaitu:

  1. Membayar bea masuk barang berupa copy pita film ke Indonesia. Pajaknya berupa PPh dan PPn sebesar 23,75 persen dari nilai barang.
  2. Membayar PPh (Pajak Penghasilan) dari keuntungan eksploitasi film mereka yang diputar di Indonesia, setelah film tersebut ditayangkan di bioskop
  3. Membayar beban pajak tontotan terhadap Pemerintah Kota atau Kabupaten. Besarnya 10 sampai 15 persen dari keuntungan penjualan tiket.

Ketentuan baru menyebutkan bahwa pemerintah membebankan pajak baru berupa bea masuk atas hak distribusi yang besarnya sama, 23,75 persen atas nilai barang. Hal inilah yang dimaksud dengan ketentuan yang tidak ada di negara mana pun, selain Indonesia. (sumber: DetikHot).

Tidak cukup hanya film Hollywood, film-film asing lain pun akan turut dihentikan peredarannya di Indonesia. Ikatan Perusahaan Film Impor Indonesia (IKAPIFI) mengikuti langkah MPAA dengan juga menghentikan distribusi film-film dari Eropa, Mandarin dan India/Bollywood, karena film impor dari negara-negara tersebut pun dikenai aturan perpajakan baru yang sama dengan film Hollywood.

Apa sajakah dampak yang akan timbul dari kondisi di atas? Menguntungkan atau merugikan? Tentunya hal ini harus dilihat dari sisi yang berbeda.

Akibat pada lapangan usaha dan lapangan kerja bioskop
Dampaknya tentu saja negatif. Kapasitas bioskop yang sebelumnya dialokasikan untuk film asing akan kosong, yang berakibat pemasukan berkurang. Kerugian akan diderita, dan pada titik ekstrim akan banyak bioskop yang tutup, dan efek domino akan menjalar kepada para pekerjanya: pemutusan hubungan kerja. Akan banyak pengangguran baru yang dihasilkan.

Akibat pada konsumen penikmat film
Dampaknya tentu saja negatif juga. Konsumen tidak dapat lagi menyaksikan film-film asing kegemaran mereka di bioskop. Memang menonton film mungkin masih bisa dilakukan di rumah melalui layar televisi dengan memutarnya pada pemutar film seperti DVD Player, tapi sensasinya tentu saja akan berbeda dengan menyaksikannya di bioskop. Apalagi belakangan ini sudah lumayan banyak film yang diputar di bioskop dalam format 3D yang tentu saja sulit dinikmati di rumah karena televisi berteknologi 3D masih sangat mahal harganya.
Selain itu, jika ingin menikmati film baru dalam format DVD atau Blue-ray penonton harus menunggu rilis dalam format tersebut paling cepat dalam waktu 3 bulan sejak film dirilis di bioskop. Kecuali menontonnya lewat DVD bajakan, tapi tentu saja hal ini sangat tidak disarankan. Selain kualitas yang sudah pasti buruk, membeli DVD bajakan juga berarti kita telah membantu perbuatan yang dilarang oleh pemerintah dan secara tidak langsung telah merugikan industri film itu sendiri.

Akibat pada bisnis film bajakan
Akibat kebijakan baru pemerintah dalam hal film impor pada bisnis film bajakan kemungkinan besar akan menjadikan “positif” pada hal-hal yang negatif. Bagaimana bisa? Bisa saja, karena bisnis film bajakan kemungkinan akan semakin merajalela sehingga menghasilkan keuntungan (“positif”) bagi pelakunya, tetapi perubahan ini adalah suatu hal yang buruk (“negatif”) bagi industri film secara umum.

Akibat pada perfilman nasional
Apakah perfilman nasional terkena pengaruh dari kebijakan di atas. Sudah barang tentu. Perubahan yang terjadi sangat tergantung dari bagaimana insan perfilman Indonesia menyikapinya. Dua arah perubahan yang mungkin terjadi adalah:

  • Perubahan ke arah yang lebih baik

Jika para pekerja film Indonesia mau berpikir positif, kondisi ini adalah suatu keuntungan dan tantangan. Dengan hilangnya film Hollywood yang sebagian besar bisa dikatakan lebih bagus kualitasnya daripada kebanyakan film Indonesia baik dari sisi teknis maupun cerita, maka insan perfilman Indonesia harus merasa tertantang untuk menggantikan kekosongan tersebut dengan menghasilkan film Indonesia yang berkualitas setara film Hollywood. Apakah para pekerja film Indonesia sanggup?

  • Perubahan ke arah yang lebih buruk

Namun dikhawatirkan pula akan banyak para produser film Indonesia yang hanya ingin mengeruk keuntungan semata dari kondisi ini. Kosongnya layar-layar bioskop yang ditinggalkan film asing akan disikapi dengan cara memproduksi sebanyak mungkin film Indonesia dalam waktu secepat-cepatnya sehingga film yang dihasilkan bisa saja asal jadi dan asal ada. Kualitas film Indonesia bisa lebih buruk daripada yang ada sekarang ini, yang sebagian besar didominasi film horror atau komedi yang asal jadi dan menonjolkan sensasi buka-bukaan para aktris pemerannya.

Entah ke arah mana perubahan akan terjadi, hanya waktulah yang bisa menjawabnnya. Sementara ini silakan nikmati saja film-film Indonesia yang judulnya tidak akan jauh dari kata-kata Pocong, Kuntilanak, Arwah, Hantu, Genderuwo, Wewegombel, dan sejenisnya yang bisa terdiri dari beberapa sequel serta duel dari masing-masing jenis hantu-hantuan tersebut.

Comments
  1. Lu Kwan Ying says:

    Walah,kecacadan nasional negri indonesia=MATA DUIDAN…
    Dah-dah beli aja film bajakan sebanyak”nya,skalian biar Indonesia tambah rugi soalnya film yg laku film bajakan.Yg masuk Indo cuma 1 keping DVD(Otomatis ga pake Bea Cukai),di Indo di Copy ber ribu-ribu keping.

    Mikir pake cara apa sih pemerintah?Mikir pake dengkul ya?Klo mw ambil untung jgn kebangetan lah,klo ga ada film luar negri,otomatis hampir semua orang Chinese,Keturunan luar negri,dll ga bakal nonton bioskop lagi.Klo ga ada orang Chinese yg nonton bioskop,pengunjung bioskop mungkin turun 75%-90%(Berdasarkan pengamatan gwa di Surabaya,90% orang yg nonton bioskop tuh Chinese).Klo bioskop ga laku,otomatis tutup,klo bioskopnya tutup,mall yg sudah sedia ruang buat bioskop pasti rugi(Soalnya desain ruang buat bioskop kan khusus),klo ruginya sampe kebangetan,mallnya tutup,supermarket&toko-toko yang ada di mall itu tutup& rugi bahkan bangkrut.

    Mw jadi apa perekonomian Negara Indonesia?

  2. JJ says:

    @Lu : semangat amat bro, hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s